sekarang lagi mau nyoba make kata "saya"..hehehe
Bandung,18 September 2006
Pagi hari sekitar pukul 05:16, saya terbangun dari tidur yang kurang jelas. Karena saya tidur dalam keadaan ketiduran setelah sebelumnya menonton sepakbola. Dan satu hal yang paling jarang saya lakukan adalah mematikan seluruh lampu kamar sementara tv dan komputer saya biarkan menyala.
Sudah lama saya tidak melakukan kegiatan tulis-menulis. Tidak tahu mungkin ini disebabkan karena saya selalu merasa malas untuk melakukannya belakangan ini. Belum ada hal yang menggugah bagi saya untuk mecoretkan tulisan saya untuk bercerita.
Tapi tidak tahu pagi ini, saya ingin menulis. Itu saja. Yah, meskipun saya menggunakan media ketik-mengetik di komputer, tapi itu tetap saja menulis kan. Namun, dengan cara yang lebih modern.
Kemarin, Minggu 16 September 2006,sekitar pukul 5 lewat di sore hari, saya menyempatkan diri ke sebuah eksibisi lomografi di jalan citarum 36. Saya mengetahui eksibisi tersebut setelah sebelumnya melihat stand lomo di pasar seni ITB, 10 September lalu. Dalam eksibisi tersebut dihadirkan berbagai karya lomografi, yaitu sebuah karya foto yang dihasilkan melalui berbagai jepretan kamera lomo. Dipamerkan juga berbagai jenis kamera lomo dengan berbagai keistimewaannya.
Eksibisi ini bukan merupakan eksibisi besar namun, hanya merupakan eksibisi kecil yang diadakan oleh komunitas pengguna lomografi Indonesia atau dikenal dengan sebutan lomonesia.
Sudah lama saya mengalami ketertarikan yang cukup mendalam kepada kamera lomo ini. Tetapi sayangnya saya belum pernah mendapat informasi yang cukup mengenai kamera ini. Saya sangat penasaran,oleh sebab itu saya memang sengaja datang untuk sekedar melihat-lihat. Dan saya datang sendirian, rasanya kok jadi agak-agak kaku dan bingung. Ingin bertanya kepada para lomografer(sebutan untuk para pengguna kamera lomo) di sana rasanya malu sekali. Mungkin gelagat saya yang ingin tahu tapi tidak berani itu terlihat ya, haha, sampai pada akhirnya seorang lomografer mendatangi saya untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai kamera-kamera itu. Dan sayapun mulai berani bertanya. Saya diberi tahu tentang jenis-jenis kamera itu dan film yang biasanya digunakan. Senang sekali rasanya memegang dan melihat kamera ini secara langsung. Bahkan saya pulang pun sambil terus tersenyum dan terbayang-bayang kamera itu. Seperti orang lagi jatuh cinta saja. ;p
Terlalu excited, mungkin itu yang saya rasakan ketika melihat berbagai jenis kamera lomo yang diperlihatkan di sana.Saya langsung berandai-andai jika saya punya satu saja dari jenis kamera itu, saya akan memotret ini, itu, pokoknya saya sudah berkhayal untuk menjejerkan karya saya di sana nantinya. Mungkin,ini disebabkan keinginan saya yang sudah sangat menggebu untuk memiliki kamera ini. Bila bisa di deskripsikan seperti jatuh cinta pada pandangan pertama namun belum bisa memiliki.Haha…
Harga dari kamera lomo itu berkisar antara 400ribu hingga 2juta rupiah, tergantung jenis dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing kamera lomo. Untuk itu saya harus meniatkan diri saya untuk mulai menabung untuk mencapai cita-cita saya memiliki salah satu, yah siapa tahu bisa memiliki salah dua atau salah tiga dari kamera lomo tersebut. ;)
Pertama kali saya mengetahui tentang kamera lomo ini adalah dari sebuah artikel di majalah POPcity mengenai kamera lomo yang di-analogi-kan sebagai kotak ajaib penuh kejutan. Saya menjadi super penasaran tentang apa itu lomo, dan berbagai pertanyaan mulai muncul di benak saya.
Pada 10 September 2006 lalu di kegiatan Pasar Seni ITB yang diadakan 5 tahun sekali tersebut, ketika saya melihat ada stand lomo,saya langsung buru-buru menghampirinya. “Gila” itu kata pertama yang saya pikirkan. Gila yang memiliki kalimat lanjutan, seperti “ Gila, keren banget foto-fotonya “ atau “Gila, ini nih kamera lomo, lucu banget, keren banget!” dan gila-gila lainnya yang terangkai dengan berbagai perasaan exciting saya. Setelah sekian lama hanya melihat melalui artikel majalah,baru kali itu saya melihat secara langsung si kamera lomo ini. Saya langsung bertanya macam-macam kepada si penjaga stand yang sepertinya adalah salah seorang lomografer. Hal yang pertama saya tanyakan adalah “ Kalo yang jenis ini harganya berapa ya? “ Begitu seringnya bertanya tentang harga membuat saya tidak enak juga,tapi itu membantu saya mengira-ngira harus menabung berapa lama untuk memiliki si kamera lomo ini.Rasanya agak berat buat meninggalkan stand itu,karena masih banyak yang ingin saya tanyakan tentang lomo. Tapi saat itu benar-benar penuh dan crowded.
Di eksibisinya, saya cukup mendapat sedikit pengetahuan lain mengenai kamera lomo itu, dimana diputar cuplikan video dari pengguna lomo di seluruh dunia.Fakta lain yang saya dapatkan adalah pengguna lomo terkadang tidak perlu melihat objek apa yang sedang mereka foto. Jepret,jepret,jepret, tunggu saja bagaimana hasilnya ketika sudah dicetak nantinya. Menurut pandangan saya, inilah nilai fotografi yang perlahan demi sedikit telah hilang dengan hadirnya berbagai kamera digital yang memang penggunaannya lebih praktis, gambarnya lebih bagus bahkan kita bisa melihat gambar yang telah difoto pada layer LCD-nya dan bila tidak sesuai dengan harapan kita bisa langsung dihapus. Di era sekarang, manusia tidak bisa lagi menunggu terlalu lama untuk mencetak foto,karena berbagai teknologi digital telah menjamur.
Yah, lupakan dulu tentang berbagai digital-digitalan itu. Kembali pada kamera lomo ini. Bagi para lomografer, membawa kemanapun kamera lomo ketika bepergian adalah hal yang wajib. Dan memotret tanpa berpikir juga merupakan salah satu seni menggunakan kamera lomo. Mereka memiliki 10 golden rules untuk memotret dengan menggunakan kamera lomo ini yaitu :
bawa lomo kemana saja,
gunakan di siang maupun malam hari,
jadikan lomo bagian dari hidup kita bukan sebagai gangguan,
bergayalah dari berbagai sisi saat memotret,
dekati objek sedekat mungkin,
jangan berpikir ketika memotret,
gerak cepat,
kita tidak perlu tahu apa yang akan terjadi ketika film dicetak,
siapkan diri untuk melihat kejutan, dan
don’t worry about the rules ( abaikan semua aturan-aturan itu )
Dilihat dari aturan-aturan itu, bisa dilihat kamera lomo adalah kamera yang muncul sebagai sebuah anomali di tengah era digita-digitalan itu. Hasilnya yang tidak setajam kamera biasa menjadi titik keunikannya. Bebas, itulah kesan lain yang saya dapat ketika mengetahui tentang kamera ini. Kita sepertinya dibiarkan bermain – main dan mulai untuk mematahkan semua aturan.
Yang saya pikirkan saat ini, bahwa sebentar lagi, mudah-mudahan tidak lama lagi (ehm,ehm..) saya bisa menjadi bagian dari si kamera lomo ini.
Tuesday, September 26, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



1 comment:
hehe...bener jg, tu kamera emang bikin jatuh cinte...
aq jg br2 aja sih seneng, masih nabung jg.Jd skrng mari kita sm2 nglamar jd lomographer..hahaha...
smangat!!!
Post a Comment